Home >> NEWS >> Soal Kerusuhan Tanjung Balai, GMNI Ingatkan Masyarakat Jangan Mudah Terprovokasi
ilustrasi : makassar.tribunnews.com

Soal Kerusuhan Tanjung Balai, GMNI Ingatkan Masyarakat Jangan Mudah Terprovokasi

Ketua Presidium Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Chrisman Damanik angkat bicara soal kerusuhan di Tanjung Balai. Menurutnya, kerusuhan di Tanjung Balai, Sumatera Utara beberapa waktu lalu yang dipicu isu suku, agama, ras, dan antar golongan (Sara) terjadi karena kesalahpahaman di media sosial, dan berdampak munculnya konflik.

Ia mengatakan bahwa bangsa dan negara Indonesia membutuhkan sikap gotong royong dan kerukunan antar seluruh umat dan masyarakat. Menurutnya, saat ini Indonesia masih berusaha keluar dari berbagai keterpurukan.

“Masyarakat jangan mudah terprovokasi isu-isu yang memecah belah persatuan dan kesatuan Indonesia yang membuat kita mundur ke belakang dari peradaban. Masih banyak tugas sebagai masyarakat menyelesaikan problem bangsa hari ini,” kata Chrisman di Jakarta, Senin (1/8/2016).

Lebih jauh, ia mengingatkan setiap elemen masyarakat harus menjaga pesatuan, kesatuan serta toleransi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Masyarakat pun diimbau mengedepankan musyawarah, tidak larut dalam isu yang memecah belah melalui media sosial.

“Kita serahkan semua pada aparat hukum, tokoh masyarakat dan agama supaya konflik dan segala permasalahan  diselesaikan dengan baik. GMNI akan mendukung dan mengawal peran penegak hukum, tokoh-tokoh agama dan  masyarakat  menyelesaikan permasalahan ini.  Jangan sampai ada dampak dari situasi yang terjadi ini,”

Sebelumnya, Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyebutkan kerusuhan yang berujung pengrusakan sejumlah rumah ibadah di Tanjung Balai pada Jumat lalu (29/7) akibat provokasi tersebar secara viral di media sosial. Menurutnya, saat itu perselisihan yang terjadi sedang diselesaikan antar warga. Namun karena perdebatan terus terjadi, warga membawa masalah ke polsek sekitar. Saat di polsek itu, beredar pesan di media sosial bernada provokatif yang memicu emosi warga sehingga terjadi tindakan pengrusakan. Kemudian warga ramai secara sporadis melakukan aksi kekerasan terhadap kendaraan, vihara dan klenteng. (AW/Red).

 

About Redaksi 4 Pilar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *