Home >> NEWS >> Rayakan HUT ke 36, Pokja Petisi 50 Gelar Diskusi Publik
foto : wahid

Rayakan HUT ke 36, Pokja Petisi 50 Gelar Diskusi Publik

Kelompok kerja Petisi 50 merayakan Hari Ulang Tahun ke 36 dengan menggelar diskusi publik bertajuk “Etika Politik dan Etika Pejabat Publik” di Jakarta, Selasa, (24/05/2016).

Hadir sebagai pembicara dalam diskusi tersebut mantan Komisioner Komnas HAM H.S Dillon, Dosen Pasca Sarjana STT Sunsugos Martin Sirait dan Dosen Paramadina Syafinuddin selaku moderator.

Selain menggelar diskusi, Pokja Petisi 50 yang sempat dikenal sebagai kelompok kirits di era Orde baru itu juga meluncurkan website petisi50.org. Website tersebut berisi tentang surat-surat politik aktivis Petisi 50 dan sepak terjang sejumlah tokoh nasional.

HS Dillon mengatakan, tokoh-tokoh yang tergabung dalam kelompok Petisi 50 sebagian merupakan para pendiri Republik Indonesia seperti S.K Trimurti, Kasman Singodimedjo, Burhanudin Harahap, dll.

Secara historis, berdirinya Pokja Petisi 50 berawal dari pertemuan antara sejumlah aktivis yang mengatasnamakan “Rakyat Pemilih” bersama Pimpinan DPR pada tanggal 13 Maret 1980. Para aktivis tersebut menyampaikan sejumlah keprihatinannya yang ditandatangani 50 orang pada tanggal 5 Mei 1980. 50 orang yang menandatangani “pernyataan keprihatinan” tersebut kemudian lebih dikenal sebagai Petisi 50.

50 aktivis tersebut merasa khawatir terhadap pidato Presiden Seoharto di Pekanbaru pada 27 Maret 1980 dan pidato di Cijantung 16 April 1980. Berikut ini penggalan pidato keprihatinan Pokja 50 yang disampaikan kepada Pimpinan DPR kala itu :

 “Saudara Ketua DPR/MPR yang terhotmat, sebenarnya dinegara kita sudah menjadi kelaziman, bahwa tiap-tiap ucapan seorang Presiden itu menjadi sumber hukum. Dan   menjadi sumber kebijaksanaan bagi bawahan-bawahannya. Terlepas dari kita setuju, apakah itu yuridis benar atau tidak, tetapi begitulah keadaan di negeri kita ini.

Kami yang datang ini dan yang turut bertanda-tangan pada pernyataan itu, sebagaimana diterangkan oleh Sdr. Dr. Azis Saleh tadi, adalah pemilih-pemilih yang terpencar pada bermacam-macam, apa yang disebut, kelompok-kelompok. Yang mempersatukan kami ialah frekuensi kami yang sama. Ibarat Radio, frekuensinya sama, kebetulan. Yaitu kami merasa prihatin medengarka ucapan-ucapan dari Bapak Presiden kita di Pekanbaru dan sesudah itu di Jakarta. (AW/Red)

 

About Redaksi 4 Pilar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *