Home >> PETIK >> Menelaah Fatwa Jihad NU di Balik Pertempuran 10 November 1945
ilustrasi : https://kolektorsejarah.files.wordpress.com

Menelaah Fatwa Jihad NU di Balik Pertempuran 10 November 1945

10 November merupakan moment bersejarah bagi Bangsa Indonesia karena pada tanggal tersebut diperingati sebagai Hari Pahlawan. Latar belakang Hari Pahlawan ialah pertempuran yang berkecamuk di Surabaya antara arek-arek Jawa Timur melawan pasukan Inggris pasca kemerdekaan Indonesia, persisnya pada 10 November 1945.

Meskipun sebelumnya telah terjadi rentetan pertempuran sejak kedatangan pasukan Inggris sebanyak 6000 personil dibawah komando Brigadir Jendral A.W.S Mallaby pada 25 Oktober 1945, akan tetapi pertempuran 10 November merupakan perang paling dahsyat. Sebab, pertempuran 10 November merupakan puncak kemarahan pasukan Inggris karena pimpinan mereka, Brigjend Mallaby tewas terkena granat.

Menurut Ricklefs (1999), kematian Brigadir Jendral Mallaby menjadi titik penentu meletusnya pertempuran 10 November di Surabaya. Tanggal 10 November subuh, pasukan Inggris memulai suatu aksi pembersihan berdarah sebagai hukuman di seluruh pelosok kota di bawah perlindungan pengeboman laut dan udara dalam menghadapi perlawanan Indonesia yang fanatik.

Dalam waktu tiga hari, hampir seluruh kota berhasil dikuasai oleh pihak Inggris, tetapi pertempuran baru berakhir tiga minggu kemudian. Ribuan rakyat Indonesia gugur dan ribuan lainnya meninggalkan kota yang telah hancur. Kendati pihak Republik Indonesia kehilangan banyak tenaga manusia dan senjata dalam pertempuran di Surabaya, tetapi perlawanan yang bersifat pengorbanan tersebut telah menciptakan suatu lambang dan pekik persatuan demi revolusi.

Hal itu juga meyakinkan pihak Inggris akanlah lebih bijkasana apabila mereka bersikap netral dalam revolusi. Hal ini pula menjadi titik penting bagi Belanda, karena peristiwa itu telah membuka mata pihak Belanda untuk melihat api perlawanan yang heroik dari rakyat Surabaya. Kenyataan ini pula menepis anggapan Belanda bahwa rakyat tidak mendukung keputusan Proklamasi oleh Soekarno-Hatta, yang menurut mereka, terutama Soekarno adalah kolaborator pihak Jepang.

Fatwa Jihad NU

Berita kedatangan tentara sekutu tersebut tersebar ke berbagai lapisan rakyat luas sehingga menimbulkan sikap kewaspadaan. Di antara rakyat luas tersebut terdapat salah satu ormas Islam yaitu NU (Nahdhatul Ulama) yang turut pula merespon kabar datangnya tentara sekutu dan NICA. Respon yang cepat dan sikap sigap tidaklah lahir dari ruang kosong. Pengalaman hidup empiris di bawah kekuasaan Belanda dan Jepang sangat lebih dari cukup untuk melahirkan perlawanan anti imprealisme.

Respon NU terhadap kedatangan tentara sekutu dan NICA diwujudkan dalam pertemuan pada tanggal 21-22 Oktober 1945 di Surabaya. Pertemuan itu dihadiri ribuan kiai dari Jawa dan Madura yang dipimpin langsung oleh Rois Akbar (pimpinan tertinggi) NU, Syaikh Hasyim Asy’arie. Pertemuan tersebut menghasilkan seruan perang di jalan Allah (Jihad fi Sabilillah) yang dideklarasikan oleh Syekh Hasyim Asy’arie yang kemudian disebut sebagai “resolusi jihad”.

Berikut isi Resolusi Jihad NU :

Bismillahirrochmanir Rochim

Resoloesi :

Rapat besar wakil-wakil daerah (Konsoel2) Perhimpoenan Nahdlatoel Oelama seloeroeh Djawa-Madoera pada tanggal 21-22 October 1945 di Soerabaja.

Mendengar :

Bahwa di tiap-tiap Daerah di seloeroeh Djawa-Madoera ternjata betapa besarnja hasrat Oemmat Islam dan ‘Alim Oelama di tempatnja masing-masing oentoek mempertahankan dan menegakkan AGAMA, KEDAOELATAN NEGARA REPOEBLIK INDONESIA MERDEKA.

Menimbang :

  1. Bahwa oentoek mempertahankan dan menegakkan Negara Repoeblik Indonesia menurut hoekoem Agama Islam, termasoek sebagai satoe kewadjiban bagi tiap2 orang Islam.
  2. Bahwa di Indonesia ini warga negaranja adalah sebagian besar terdiri dari Oemmat Islam.

 Mengingat:

   Bahwa oleh fihak Belanda (NICA) dan Djepang jang datang dan berada di sini telah banjak sekali didjalankan kedjahatan dan kekedjaman jang menganggoe ketentraman oemoem.

   Bahwa semoea jang dilakoekan oleh mereka itu dengan maksoed melanggar kedaoelatan Negara Repoeblik Indonesia dan Agama, dan ingin kembali mendjadjah di sini maka beberapa tempat telah terdjadi pertempoeran jang mengorbankan beberapa banjak djiwa manoesia.

   Bahwa pertempoeran2 itu sebagian besar telah dilakoekan oleh Oemmat Islam jang merasa wadjib menoeroet hoekoem Agamanja oentoek mempertahankan Kemerdekaan Negara dan Agamanja.

   Bahwa di dalam menghadapai sekalian kedjadian2 itoe perloe mendapat perintah dan toentoenan jang njata dari Pemerintah Repoeblik Indonesia jang sesoeai dengan kedjadian terseboet.

 Memoetoeskan :

   Memohon dengan sangat kepada Pemerintah Repoeblik Indonesia soepaja menentoekan soeatoe sikap dan tindakan jang njata serta sepadan terhadap oesaha2 jang akan membahajakan Kemerdekaan dan Agama dan Negara Indonesia teroetama terhadap fihak Belanda dan kaki tangannja.

   Seoapaja memerintahkan melandjoetkan perdjoeangan bersifat “sabilillah” oentoek tegaknja Negara Repoeblik Indonesia Merdeka dan Agama Islam.

Soerabaja, 22 Oktober 1945

 

Fatwa resolusi jihad tersebut seperti diuraikan Martin Van Bruinessen (1994) telah membakar semangat perang arek-arek Suroboyo dan para santri se Jawa-Madura melawan penjajah. Pengaruh seruan jihad terlihat dua minggu setelah kedatangan Inggris di Surabaya, sebelum pemberontakan pecah, banyak pengikut NU yang terlibat aktif dalam perang itu. Banyak diantara pejuang muda yang menggunakan jimat yang diberikan kiai desa mereka. Sutomo atau yang lebih dikenal dengan sebutan Bung Tomo menggerakkan massa untuk terjun ke medan tempur melalui orasi di radio

Resolusi jihad menjadi dasar dari kobaran semangat rakyat melawan penjajahan sampai pertempuran besar 10 November 1945 di Surabaya. Seperti ditegaskan oleh Juma’ (2013), doktrin agama yang bernuansakan nasionalisme menjadi alat agitasi untuk menanamkan nilai-nilai keagamaan dan nasionalisme di kalangan masyarakat, sehingga akan terbentuk suatu semangat jihad atas nama kebangsaan. Kalau pertempuran sebelum masa revolusi, semangat rakyat melawan penjajah adalah semata-mata agama (jihad), maka pertempuran pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, semangat rakyat adalah nasionalisme bernafaskan keagamaan.

Islam dan Nasionalisme

Fatwa Jihad NU di atas telah mempertegas bahwa landasan religius dapat berjalan dalam satu tarikan nafas bersama faham nasionalisme. Selain itu, spirit keagamaan juga memberikan sumbangsih terhadap khazanah nasionalisme Indonesia.

Fatwa resolusi jihad NU telah memberikan pelajaran penting makna keyakinan religius terhadap pentingnya kesadaran berbangsa dan bernegara. Secara mendasar perjuangan fi sabilillah NU didasari pada dua nilai-nilai dasar yakni spirit kemanusiaan dan spirit kebangsaan.

Spirit kemanusiaan merupakan manifestasi dari pesan ajaran Islam sebagai rahamatn lil alamin. Oleh karenanya, sistem penjajahan yang menjadi agenda kedatangan tentara sekutu sangat bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Penjajahan atau imperilasme menurut Bung Karno adalah praktek ekspolitasi manusia atas manusia dan ekspolitasi bangsa terhadap bangsa lain sangat bersebrangan dengan nilai-nilai kemanusiaan yang mengandug spirit keadilan, kesejahteraan serta kesetaraan.

Sementara terkait spirit kebangsaan, bagi NU Indonesia adalah negeri Islam atau “daar al-Islam” dengan orientasi kebebasan menjalankan kepercayaan beragama serta keselamatan pemeluk agama Islam dan pemeluk agama lainnya. Pengertian negara Islam bagi NU tidaklah merujuk pada arti legal formal, namun lebih menekankan pada esensinya yakni negara yang menjamin keselamatan dan kebebasan menjalankan syariat Islam walaupun Islam tidak berlaku secara legal-formal sebagai dasar pemerintahan.

Ahmad Baso (2006) menjelaskan bahwa konsepsi pentingnya melindungi tanah air yang dikumandangakan NU memiliki makna luas dan tidak terbatas bagi kaum muslim semata, namun lebih dari itu, membela tanah air dan bangsa berarti juga melindungi semua komunitas, baik muslim, Kristiani, Hindu, Budha, Khonghucu, aliran kepercayaan ataupun komunitas adat lainnya.

Dengan demikian maka landasan kebangsaan yang dibangun oleh NU mendasarkan diri pada spirit kemanusiaan yang merupakan pesan mendasar dalam ajaran Islam. Lebih jauh, spirit kebangsaan tersebut senafas dengan konsepsi nasionalisme Soekarno, bahwa nasionalisme itu harus Congruent With The Sosial Conscience of Man (sesuai dengan tuntutan hati nuarani manusia).

Potret sejarah di atas perlu untuk menjadi bahan refleksi bersama di tengah arus global dewasa ini. Maraknya gerakan Islam radikal trans-nasional serta gerakan separatisme yang menjadi ancaman nasionalisme Indonesia, merupakan tantangan tersendiri bagi gerakan Islam kebangsaan. Catatan sejarah di atas menunjujukkan bahwa Islam kebangsaan dapat menjawab berbagai persoalan yang muncul kala itu. Mengutip Bondan Gunawan (2003) sejak abad ke-19 sampai pertengahan abad ke-20 banyak sekali gerakan sosial yang berdasarkan Islam ditujukan untuk melawan hegemoni negara kolonial. (AW/Red)

Selamat Hari Pahlawan. Merdeka!!!

Sumber Pusataka :

Baso, Ahmad, 2005, “NU Studies, Pergolakan pemikiran antara Fundamentalisme Islam dan Fundamentalisme Neo-Liberal”. Erlangga, Surabaya.

Bruinessen, van Martin, 1994. “NU ; Relasi Kuasa, Pencarian Wacana Baru, LkiS, Yogyakarta

Feillard, Andree, 2009. “NU Vis a vis Negara, LkiS, Yogyakarta

Juma’, 2011 “Resolusi Jihad dan Pengaruhnya Terhadap Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya,. Skripsi Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam Fakultas Adab Universitas Sunan Kalijaga, Yogyakarta

Ricklefs MC, 1999. “Sejarah Indonesia Modern”, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta

Soekarno, 1963. “Di Bawah Bendera Revolusi, Panitia Penerbit Di bawah Bendera Revolusi: Jakarta.

Gunawan, Bondan, “Membangun Demokrasi Melalui Wacana Islam dan Kebangsaan”, Majalah Panjimas, Agustus 2003

 

About Redaksi 4 Pilar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *