Home >> NEWS >> Mencari Keadilan, Petani Kendeng Sambangi Kedutaan Besar Jerman

Mencari Keadilan, Petani Kendeng Sambangi Kedutaan Besar Jerman

Puluhan petani Kendeng yang tergabung dalam Jaringan masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JM-PPK) menyambangi markas Kedutaan Besar Jerman di Jl M.H Thamrin, Menteng, Jakarta Pusat.

Menurut koordinator JM-PPK Gunretno mengatakan, kedatangan puluhan petani tersebut untuk menggelar audiensi dengan segenap pimpinan Kedutaan Besar Jerman. Audiensi tersebut lanjut Gunretno adalah bagian dari jalan panjang perjuangan damai para petani Kendeng.

“Upaya ini kami tempuh sebagai bagian dari rangkaian perjuangan damai kami untuk tetap mempertahankan tanah garapan kami dari berbagai upaya perusakan ataupun pengalihan fungsi lahan pertanian sebagai lahan pertambangan,” kata Gunretno, Senin (16/05/2016).

Lebih jauh  Gunretno membeberkan, Heidelberg Cement AG yang dipegang oleh Birchwood Omnia Ltd (perusahaan milik Jerman) adalah pemilik saham terbesar (51%) dari PT. Indocement Tunggal Prakarsa .

Gunretno menjelaskan, PT. Sahabat Mulia Sakti (SMS), sebagai anak perusahaan dari PT. Indocement Tunggal Prakarsa, hendak melakukan ekspansi pembangunan pabrik semen dan penambangan di wilayah Kecamatan Kayen dan Kecamatan Tambakromo, Kabupaten Pati. Padahal Kecamatan Kayen dan Kecamatan Tambakromo adalah kawasan padat penduduk dengan banyak sumber mata air yang dimanfaatkan untuk mencukupi kebutuhan hidup, rumahtangga dan untuk pertanian.

“Kami merasa perlu melakukan audiensi dengan pimpinan Kedutaan Besar Jerman untuk memberikan masukan yang benar sebagai dasar membuat kebijakan, khususnya perihal ekspansi pembangunan pabrik semen, agar investasi Jerman di Indonesia khususnya di Pegunungan Kendeng tidak hanya memperhatikan aspek ekonomi tetapi juga memperhatikan aspek sosio budaya dan daya dukung serta daya tampung wilayah,” papar Gunretno.

Gunretno menjelaskan, pegunungan Kendeng Utara adalah kawasan karst yang terbentang dari Kabupaten Tuban, Rembang, Blora, Grobogan, Pati dan Kabupaten Kudus. Fungsi vital karst adalah sebagai daerah resapan air dan berbagai macam situs budaya.

Gunretno mencontohkan, rusaknya kawasan karst di Kabupaten Tuban harus dibayar mahal dengan berbagai bencana yang melanda seperti kekeringan, hilangnya mata pencaharian petani, dan akhirnya justru menciptakan kemiskinan yang lebih besar.

“Hal itu adalah contoh buram perusakan alam atas nama pembangunan. Kami tidak ingin bencana kemanusiaan ini meluas,” tegas Gunretno. (AW/Red)

About Redaksi 4 Pilar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *