Home >> NEWS >> Hasil Referendum Inggris, 52% Sepakat Keluar dari Uni Eropa
foto : www.theguardian.com

Hasil Referendum Inggris, 52% Sepakat Keluar dari Uni Eropa

Kamis (23/6/2016), menjadi hari yang sangat bersejarah bagi Inggris ketika puluhan juta rakyatnya memberikan suara dalam referendum untuk menentukan apakah negara yang dimpimpin Perdana Menteri (PM) David Cameron itu tetap bergabung dengan Uni Eropa atau meniggalkan organisasi itu.

Data yang dihimpun bbc.com, penghitungan akhir menunjukkan 52% pemilih memutuskan untuk keluar (Brexit) sedangkan 48% menginginkan Inggris tetap berada di dalam Uni Eropa. Mereka yang menggunakan hak suaranya mencapai 71,8% dengan lebih dari 30 juta orang yang memilih, jumlah terbesar sejak pemilu tahun 1992.

Banyak kalangan menuding, Inggris merasa tidak diuntungkan sebagai anggota Masyarakat Uni Eropa (MEE). Inggris disebut-sebut mengalami defisit perdagangan dengan negara-negara anggota MEE yang mencapai 30 juta poundsterling per hari. Di sisi lain, perdagangan Inggris justeru mengalami surplus di beberapa benua lainnya.

Alasan lainnya ialah, biaya tahunan regulasi Uni Eropa lebih besar daripada keuntungan dari pasar tunggal dengan  600 sampai  180 miliar euro. Selain itu, di luar Uni Eropa, Inggris akan bebas untuk menegosiasikan perjanjian perdagangan yang jauh lebih liberal dengan negara-negara dunia ketiga daripada di Uni Eropa. Selama ini, Inggris harus berdagang dibawah Tarif Eksternal umum.

Semetara itu, secara internal Inggris juga mengalami tantangan perpecahan pasca hasil referendum tersebut. Britania Raya terdiri dari England, Wales, Skotlandia dan Irlandia Utara. Menteri Besar Skotlandia Nicola Sturgeon mengatakan hasil referendum ini “secara demokratis tak dapat diterima” karena Skotlandia memilih untuk tetap bergabung dengan Uni Eropa.

Sturgeon mengatakan referendum kemerdekaan yang kedua “sangat mungkin” dilaksanakan.

Dua mantan perdana menteri Inggris, Sir John Major dan Tony Blair awal bulan Juni ini memperingatkan bahwa keluar dari Uni Eropa “akan merusak kesatuan” Britainia Raya.

Lebih jauh, dampak keluarnya Inggris dari Uni Eropa menurut Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Rizal Ramli, tidak berdampak signifikan bagi perekonomian Indonesia.

Rizal Ramli mengatakan,  Brexit menyebabkan guncangan di Eropa, hal itu tak berlaku pada perekonomian Indonesia.

“Terkait dampaknya ke Indonesia relatif kecil, itu kan punya pengaruh besar terhadap Inggris sendiri, sama negara Eropa. Tapi khusus Indonesia dampaknya relatif kecil,” ujar Rizal. (AW/Red)

About Redaksi 4 Pilar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *