Home >> MPR >> Abidin Fikri Tegaskan Konsep Ketuhanan Bung Karno Penting Untuk Diterapkan

Abidin Fikri Tegaskan Konsep Ketuhanan Bung Karno Penting Untuk Diterapkan

Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR –RI) Abidin Fikri mengatakan, bangsa dan negara Indonesia perlu memahami kembali konsep ketuhanan yang disampaikan oleh proklamator Indonesia, Bung Karno dalam pidato Pancasila 1 Juni 1945 di sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK).

Hal itu disampaikan Abidin saat sosialisasi Empat Pilar MPR-RI sekaligus pelantikan Pengurus Ranting PDI Perjuangan di Desa Sobontoro, Kecamatan Tambakboyo, Tuban, Jawa Timur, Senin (12/12/2016).

Politisi PDI Perjuangan itu mengatakan, dalam sidang BPUPK yang dipimpin oleh dr. Radjiman Widyodiningrat itu, Bung Karno menguraikan Pancasila atau lima prinsip sebagai dasar Indonesia merdeka yakni : Kebangsaan atau Nasionalisme, Internasionalisme atau Perikemanusiaan, Mufakat atau Demokrasi, Kesejahteraan Sosial dan Ketuhanan.

Di hadapan ratusan kader dan pengurus PDI Perjuangan Tuban, Abidin menegaskan bahwa prinsip ketuhanan Bung Karno dalam Pancasila 1 Juni 1945 ialah Ketuhanan yang Berkebudayaan; yakni tidak adanya egoisme-agama, ketuhanan yang berbudi pekerti luhur dan menjalankan agama dengan cara yang berkeadaban yaitu sikap hormat-menghormati satu sama lain.

“Bung Karno sudah mengatakan, marilah kita semuanya bertuhan. Hendaknya negara Indonesia ialah negara yang tiap-tiap orangnya dapat menyembah Tuhannya dengan cara leluasa,” katanya mengutip pidato Bung Karno.

Abidin juga mengatakan, dalam Pidato Pancasila 1 Juni 1945 Bung Karno menjelaskan bahwa Nabi Muhammad dan Nabi Isa telah memberikan contoh bagiamana menghormati agama lain. Bung Karno juga menegaskan, segenap agama yang ada di Indonesia sekarang ini, akan mendapat tempat yangsebaik-baiknya.

Lebih jauh, Abidin mengatakan pentingnya pemahaman konsep ketuhanan yang berkebudayaan dan berkeadaban menurut Bung Karno agar rakyat Indonesia tidak terjebak pada aksi kekerasan atas nama agama dan sikap intoleransi yang merebak akhir-akhir ini. Selain itu, pemahaman tersebut dapat menjadi benteng bangsa dan negara dari pengaruh-pengaruh gerakan radikalisme agama transnasional yang dapat mengancam keutuhan NKRI.

“Konsep ketuhanan yang berkebudayaan dan berkeadaban bila dipraktekkan dengan serius akan menjadikan wajah Islam yang khas ala Indonesia dengan segenap akar kebudayaan dan peradabannya, sehingga dapat menjadi contoh bagi negara lain,” pungkasnya. (AW/Red)

About Redaksi 4 Pilar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *